Time passes really fast.
How's my 2014 going so far?
Not much, actually.
Just too much stay up late.
Too much caffeine.
Gossiping with some of my (ex) students' moms.
Befriend with brondong.
Frequent foot blisters (women's shoes are hell for sure!) #teamsendaljepit.
My job is no longer teaching.
Can't tell how grateful I am for that.
Tomorrow is my mom's birthday (you stay 59 for ever, mom. Lucky you!)
I've been reading a lot of books.

Trying my best to resist the temptation to gossiping my adorable ex boss, Mrs. X. 

Work harder so that I can save money to travel the world.
And if there's money left I think I want to buy morale, ethics, and heart, since "Cindy doesn't have 'em," said Mrs. X.

Miss Rina, Angel, & me. Angel got hospitalized, one day after my resignation

Tante poni mau dironggengkan

Eike bosen jadi guru...

Pusing ah ngurusin anak orang terus
Mau coba peruntungan di bidang lain

Tante sempat tertarik untuk jadi petani tebu,
Tinggal cari om om kaya yang mau beliin lahan tebu

Atau,
Bisnis jualan anak
Bosen ngajar anak orang terus
Mau jualin anak orang ah
Ini sudah tante diskusikan dengan sepupu tante
Katanya prospeknya lagi bagus ya
Dulu kan ditukar sama beras
Kalau sekarang dikiloin gitu kan ya
40 ribu sekilo kalo gak salah
Gak beda jauh sama daging babi ya

Atau,
Jadi istri lurah
Enak kali ya kerjanya cuma ngurusin sanggul tiap hari
Istri muda....

Atau,
Jadi ronggeng
*cari dukun ronggeng*
Aku mau joged
Kalungin selendang ke si akang
Ayo kaaanggggg......

Masih mikir-mikir sih mana yang paling cocok

“Sampai akhir tahun, sampai semua urusan beres, sampai semua tanggung jawab saya selesaikan. Setelah itu saya mau resign. Jadi Januari saya sudah nggak di sini lagi.”

Jawabannya tidak. Harus tunggu sampai akhir tahun ajaran, Juni berakhir. Saya tetap akan keluar, diizinkan atau tidak… secara baik-baik atau tidak baik-baik. Yang penting sudah bilang.

Dan jadilah selama beberapa bulan sebelum tahun 2013 berakhir, saya bekerja seperti orang gila. Demi menyelesaikan semua tanggung jawab saya sampai akhir tahun, dengan bonus materi pelajaran sampai dengan mid semester depan sudah saya selesaikan, sampai soal ujian pun sudah (setahu saya, tanggung jawab tidak berarti harus menyelesaikan satu tahun ajaran penuh, kesepakatan itu tidak pernah ada, ayolah... jujur saja bos... yei nggak bisa bodohi eike). Meskipun saya tahu, kerja keras itu tidak akan berarti apa-apa buat bos. Sakit kepala saya berbulan-bulan tidak ada artinya. Meskipun saya tahu, tetap akan ada omongan jelek tentang saya. Meskipun saya tahu, tetap saja saya tidak akan diizinkan keluar seperti mau saya, akhir tahun. Meskipun saya tahu, tenaga saya berarti bekerja sukarela karena sudah pasti saya tidak akan gajian bulan terakhir, kan saya terpaksa keluar tidak baik-baik, kabur.

“Kalau gue jadi lo, gue nggak akan mau selesaiin semua kerjaan itu. Gila aja! Keenakan dia! Gaji lo ditahan sama dia. Sia-sia tenaga lo. Kerja keras lo nggak berarti apa-apa buat dia.”

“Ini bukan untuk dia... buat gue. Karena dari masih pakai seragam sekolah, gue udah terbiasa jadi orang yang bertanggung jawab, dan nggak akan berubah, apapun yang terjadi.” Gue boleh kesel setengah mati sama bos, tapi tanggung jawab tetap tanggung jawab. Ini soal prinsip. Ini untuk gue. Bukan untuk siapa-siapa. Apalagi untuk dia. Tidak!

Oh ya, ex-boss, saya masih ingat kok… di tahun 2012 saya melamar sebagai guru, bukan babu. Itulah kenapa saya keluar.

Terima kasih… saya belajar banyak tentang seni memanipulasi orang. Haha…. Kali lain, saya akan bertambah hebat dengan ilmu itu. Tidak akan gagal lagi untuk menjadi cerdik seperti ular. Saya janji. Merpati yang tulus ini tidak akan sudi lagi dimanfaatkan orang.

Kata mantan bos saya nggak punya etika ya? Eh iya, memang saya nggak punya etika. Memangnya situ punya? Beli di mana sih? Goceng dapet?

Kata mantan bos lagi saya nggak punya perasaan. Eh… bener pisan itu mah. Memang saya teh henteu punya perasaan. Perasaan neng teh sudah mati, ya gara-gara orang-orang sok rohani sapertos maraneh....

Sudahlah mantan bos… saya sudah bahagia dengan pekerjaan dan pacar baru saya. Move on lah….


Selamat tahun baru.
Salam sayang,
Cindy - guru yang tidak punya etika J dan menjalani hidup dengan kepala penuh berisi harapan dan semangat di tahun 2014 ini  

Saya tinggal tunggu meledak.

Saya mungkin cuma setengah berpikir ketika menulis ini, atau mungkin tidak berpikir sama sekali. Saya tidak peduli kalau tulisan ini dibaca oleh seluruh warga Indonesia termasuk orang-orang yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Saya tidak memikirkan tata bahasa. Saya cuma mau memuntahkan ini sebelum saya betul-betul meledak. 

Saya sudah hampir meledak. Setelah kemarin-kemarin ditunjuk-tunjuk oleh dua murid saya (kakak adik) sambil nangis-nangis seolah saya ini penjahat yang suka menyiksa anak-anak kecil. Setelah kemarin-kemarin ada anak baru cengeng yang tidak mau saya dekati. Setelah kemarin-kemarin diminta pertanggungjawaban sama orangtua anak les yang mengeluh kelakuan anaknya jadi alay. Setelah kemarin-kemarin diperlakukan selayaknya baby sitter atau kacung anaknya oleh orangtua murid. Setelah sekian lama kehidupan sosial dan waktu luang saya terenggut oleh pekerjaan ini.

Saya sudah berdoa supaya ada kesempatan dimana saya bisa memuntahkan semua kekesalan saya. Tapi kesempatan itu tidak ada. Saya pendam terus di dalam hati. Menumpuk dan tinggal tunggu waktunya meledak. Mungkin semesta ingin saya jadi orang sabar.

Saya sensitif untuk soal yang seperti ini. Saya tidak suka dituduh, disuruh bertanggungjawab untuk hal yang tidak saya lakukan.

Rafa dan Nathan mendadak jadi cengeng dan manja lagi ke sekolah gara-gara diantar ibunya (dulu diantar pengasuh), jadi nggak mau ditinggal, mau ibunya tungguin terus di dalam kelas. Saya dipakai mereka jadi alat untuk mendukung perilaku impulsif kedua anak itu. Mereka berdua bilang takut sama saya biar mamanya nggak pergi. Saya ditunjuk-tunjuk sambil nangis kenceng dan bilang takut sama saya. Dan ibunya percaya! Saya diawasi seperti penjahat terus-terusan. “Bukan karena ada saya kali mereka jadi manja … Mungkin mereka pernah diapain gitu di sekolah?” kata ibunya. What the hell!!! MEMANGNYA ANAK-ANAK LO PERNAH GUE APAIN???

Beberapa hari begitu terus. Lama-lama saya kesal, sejadi-jadinya. Saya nggak pernah berlaku tidak wajar sama dua anak itu. Buktinya, kalau memang beneran takut sama saya, kenapa pas ibunya pergi Rafa berani minta jelly yang saya pegang? Dan kenapa Nathan berani ngajak bercanda saya dengan muka konyolnya pas ibunya nggak ada? Dan keselnya lagi, dua guru lain seolah percaya bahwa saya memang pernah salah bersikap jadi dua anak itu takut sama saya. Oh, come on, pasang CCTV aja deh biar ketahuan jelas gimana saya memperlakukan mereka! Kalaupun saya pernah bersikap tegas itu karena anak-anak itu sudah keterlaluan nakalnya sampai hampir membahayakan temannya yang lain. Memangnya Anda mau bertanggungjawab kalau anak orang sampai kenapa-kenapa?! Memangnya Anda akan diam aja ketika dengar anak murid ngomong yang bukan-bukan. Kan yang pernah lihat gimana nakalnya Rafa dan Nathan cuma saya. Dan itupun sudah lama. Setelah itu baik-baik aja. jadi kenapa baru sekarang diajadiin alasan untuk takut sama saya. Apa karena isi raport mid semester yang saya tulis dengan sepenuh hati itu terlalu jujur sehingga ibunya nggak bisa terima?

Dan datanglah seorang murid baru bernama Angie. Bule, cantik, cengeng, dan susah bergaul. Dia nggak mau sama saya. “Kenapa si Angie nggak mau saya kamu, Cin?” “Ya nggak tahu!” Memangnya saya apain? *Emosi* Saya memang nggak mau bujukin anak manja. Keenakan. Bisa besar kepala. Maksudku, di rumah aja dia udah dimanja banget, di sekolah guru-guru manjain juga. Mau jadi apa! Saya kenal anak manja yang ketika besar suka memandang rendah orang lain. Jadi Anda tahu kenapa saya kesal sama anak manja.

Nggak suka sama saya? Sejujurnya saya oke-oke aja. No problem. Kalau orangtuanya dan guru-guru lain terus manjain begitu toh yang rugi anak itu sendiri. Tetap cengeng, tetap manja, nggak punya teman. Hanya saya nggak suka dituduh macam-macam, untuk kesalahan yang nggak saya lakukan. Bayangkan kalau Anda yang jadi saya.

Lanjut, kasus berikutnya Naomi, anak les saya. Mamanya setiap datang selalu protes anaknya menurun di sekolah (yang jelas-jelas dia tahu itu karena guru di sekolahnya dia sentimen sama murid yang nggak mau les sama guru sekolahnya) dan kelakuan anaknya yang jadi lebay dan alay (mengutip kata-kata  mamanya). Hello!! Kenapa lo minta pertanggungjawaban gue karena anak lo jadi alay? Ya jangan suka nonton TV dan jangan gaul sama tetangga yang kampungan kalau nggak mau anak lo jadi alay! Intinya, mamanya ‘nyerah’ didik Naomi, di sekolah juga dia udah ‘nyerah’ sama guru-gurunya yang nggak adil, jadilah tempat les jadi alat terakhir, tumpuan harapan untuk bisa mengubah anaknya. Les yang cuma dua jam, diharapkan untuk bisa mengubah anaknya jadi lebih baik secara otak dan karakter, sementara dia sendiri nggak mau pusing didik anaknya? Gimana bisa? Padahal Naomi itu pintar, hanya kurang dapat penghargaan kalau dapat nilai bagus dan sering dibanding-bandingkan dengan anak lain. Giliran dapat nilai di bawah seratus mamanya protes sebegitu hebohnya.

Saya mau ngamuk. Saya nggak suka disuruh bertanggungjawab atas perubahan sikap anaknya yang jadi alay. Saya sendiri saja benci orang alay. Mamanya kalau ngomong tanpa mikir. Curhat ke guru lain (seolah saya nggak bener ngajar anaknya) di depan saya. Maksudku, Anda pikir saya nggak punya perasaan?
Berapa banyak akhir pekan yang terenggut untuk urusan pekerjaan di sekolah?

Saya nggak mau munafik. Saya kesal. Saya sudah mengorbankan waktu luang (yang harusnya bisa untuk baca, nulis, jalan-jalan, istirahat, dan ngurus rumah) saya, hati dan pikiran, tenaga dan lainnya untuk pekerjaan ini. Papa sampai bela-belain bantuin saya beres-beres piring kotor pagi-pagi karena saya udah terlambat pergi kerja. Padahal papa nggak boleh ‘masuk angin’ pegang air. Itu menyesakkan buat saya. Jadi apapun yang terjadi, saya paksain diri untuk cuci piring dulu biarpun telat kerja. Tapi orang-orang di sekolah nggak tahu. Mereka cuma bisa menghakimi saya yang tidak bisa datang lebih pagi. Tiap hari pulang ke rumah dengan perjuangan berat menghadapi macet di dalam angkot yang bikin pusing dan kepala yang sudah mau pecah ngajar seharian. Jatah liburan dipotong terus untuk urusan kerjaan. Terbangun di hari sabtu dengan batik seragam yang belum dicopot dari badan. Balasannya malah dituduh orang. Wow.

Paham nggak sih kalau saya sudah stres sejadi-jadinya? Tinggal tunggu meledak. Kenapa nggak resign aja? Nggak semudah itu keluar dari sini. Akan ada banyak tantangan untuk itu dan omongan-omongan miring setelah saya meninggalkannya.

Saya mau makan orang.

Terkadang saya berpikir,
Tuhan ngambek sama saya
karena saya sudah malas berdoa,
akhir-akhir ini.

My Little Dear,

Belajar yang rajin ya! Biar cepat bisa baca. Biar kamu nanti bisa baca ini.
Kemarin, ada kakak yang kaget ketika tahu namamu. Dia tanya padaku, untuk lebih yakin, “Namanya Laura? *melongo* Bagus amat….” Mungkin menurutnya namamu itu terlalu bagus untuk seorang anak dari kaum marjinal. Aku pun, ketika pertama kali membaca namamu di buku tulis, sama kagetnya seperti kakak yang kemarin itu.
Terima kasih, sayang.
Untuk keriangan dan sikap bersahabatmu itu.
Untuk mau bermanja-manjaan di pangkuanku.
Untuk selalu membuatku tertawa.
Untuk “Kakak kupingnya kecil, sama kayak aku.”
Untuk “Kakak ketawa terus!”
Untuk “Abis ini anterin aku ke warung itu ya, kak! Tapi belajar dulu.”
Untuk pelukan penyambutanmu itu.
Untuk merindukanku ketika aku tidak datang.
Untuk bertanya, “Pas nanti aku baris kakak di mana?”
Untuk mau menggenggam dan menarik-narik tanganku.
Untuk mau mengobrol denganku.
Untuk menjadikanku sahabatmu. Aku bertanya-tanya… sebelum aku, siapa kakak pendamping terdekatmu (ah tapi, umurmu baru 3 tahun, kutebak kamu baru bergabung di kelas bimbel itu) dan siapa yang nanti akan jadi kakak pendamping terdekatmu? Dia pasti orang yang beruntung.
Untuk banyak pelajaran yang kudapat dari mengajarmu.
Untuk kebahagiaan yang amat berarti itu.
Aku tidak pernah menyerah terhadap kamu. Jadi, itu bukan kamu alasannya. Kalau kau bertanya aku ke mana… anggap saja aku batman, yang ingin bertugas ke tempat yang benar-benar membutuhkanku. (sebetulnya aku bukan batman, sih!)
Aku tak bisa menulis banyak, nanti aku menangis.

Hail to the brondong

“Berapa selisih umur kita?” kamu bertanya.
“Tujuh tahun. Aku yang lebih tua,” jawabku sedikit ketus, sambil tetap memandang lurus ke depan.
Host bertampang aneh masih mengoceh di atas panggung pelaminan, mencoba segala usaha untuk membuat tamu-tamu mendengarkannya. Pengantin perempuan masih mempertahankan senyum bahagia sampai lapisan bedaknya retak di sekitar mulut. Pengantin laki-laki—teman lamamu—terlihat cemas memegang perut buncitnya, iri dengan tamu-tamu yang sudah boleh makan. Orang-orang mengobrol dengan piring di tangan, ada yang tiap menit membetulkan tali gaun model spaghetti-nya—khawatir melorot. Beberapa teman memperhatikan kita dari jauh, bertanya-tanya sudah sejauh apa kedekatan kita. Aku dan kamu makin tidak peduli pada suasana pesta.
“Tujuh. Wah, seru ya?! Pantas bertengkar terus!” Kamu mengayun-ayunkan tanganku sambil memasang muka riang, caramu menggodaku kalau aku merajuk. Mereka pasti tidak akan sadar bahwa kita sedang bertengkar.
Aku sedingin es dan kamu terlalu hangat. Pantas bisa cepat mencair. Meski tujuh tahun itu jarak yang ajaib, mereka bilang. Apakah kita saling memahami atau ini keyakinan yang terlalu mengkal dimana gelora-gelora asmara begitu mudah disanjung, dimana kata-kata ‘atas nama’ dengan mudah ditambahkan di depan kata ‘cinta’, entahlah!
 ***

Minal aidin ya, guys! (yah... telat banget!) Gimana dong... tante baru sempat online lagi ini. Terima aku apa adanya dong! (eh? curhat ya ini?)

Saya mencintai orang waras

Saya mencintai dia. Dia adalah orang waras. Ya, terlalu waras sampai tidak mau bertindak sedikit saja lebih nekat. Seharusnya saya mencintai orang gila saja, kalau memang hanya orang gila yang mau melakukannya, merobek sekat tak kasat mata yang memisahkan saya dengan dia. Tapi kenyataannya pelik karena saya mencintai orang waras. Kami terlalu dekat, kami terlalu sering bertemu, kami terlalu sering pandang-pandangan, tapi tak bisa bersatu. Lagi-lagi, karena dia orang waras.